Begitu melangkah ke lingkungan SMK Negeri 1 Peusangan, sebuah pesan tegas langsung menyambut “pastikan siswi sudah CANTIK dan siswa sudah TAMPAN”.
Sekilas, kalimat ini bisa memancing senyum atau salah paham. Apalagi jika kepala sekolahnya seorang laki-laki. Lalu muncul pertanyaan nakal, “kalau kepala sekolahnya cowok, harus cantik bagaimana”? 😁😁
Tenang, di SMKN 1 Peusangan, cantik dan tampan bukan perkara cermin, bedak, atau modis. Ini soal sikap, budaya kerja, dan cara berpikir.
Cantik dan tampan di sini adalah akronim yang isinya serius, meski dibungkus dengan cara yang jenaka dan mengena.
Mari kita ulas satu per satu arti dari akronim tersebut.
CANTIK bukan tentang rupa, melainkan karakter kerja.
C = cekatan dalam bekerja, tidak menunda dan tidak menunggu disuruh berkali-kali.
A = APD digunakan dan anti kerja ceroboh, karena keselamatan adalah bagian dari kecerdasan.
N = niatkan bekerja dengan tulus, sebab kerja tanpa niat hanya akan melelahkan.
T = terbiasa dengan budaya K3, disiplin yang dibangun dari kebiasaan, bukan paksaan.
I = ikhlas dalam bekerja, menerima tugas tanpa banyak keluh.
K = kerja giat dan semangat, motor utama kemajuan sekolah kejuruan.
Sementara itu, TAMPAN juga tidak kalah bermakna.
T = teliti terhadap potensi bahaya yang timbul, karena lalai sering kali berawal dari meremehkan.
A = analisa faktor risiko yang akan timbul, berpikir sebelum bertindak.
M = menggunakan APD yang sesuai, bukan sekadar formalitas.
P = pastikan diri dalam kondisi siap, fisik dan mental.
A = amati kondisi sekitar, karena lingkungan bicara pada mereka yang mau peka.
N = niatkan ibadah agar berkah, ditutup dengan pesan kuat dengan menjadikan kerja sebagai bagian dari pengabdian.
Jadi, jika ada yang bertanya apakah kepala sekolahnya harus cantik, jawabannya sederhana: tidak harus cantik, tapi wajib CANTIK. Tidak harus tampan secara fisik, tapi mutlak TAMPAN dalam cara berpikir dan bertindak.
Di SMKN 1 Peusangan, cantik dan tampan bukan soal wajah, melainkan soal nilai. Karena pada akhirnya, karakterlah yang membuat seseorang layak berdiri di depan, baik sebagai siswa, guru, maupun kepala sekolah.