Jika sekolah dapat merekam perjalanan waktunya sendiri, maka akhir tahun 2025 akan tercatat sebagai salah satu babak paling menguji bagi SMKN 1 Peusangan. Banjir yang datang tanpa aba-aba mengubah wajah sekolah yang selama ini dikenal asri dan tertata rapi.

Sebelum bencana itu, setiap sudut halaman dihiasi bunga. Mayoritas siswa kami adalah perempuan, sehingga sentuhan estetika begitu terasa. Pot-pot bunga tersusun rapi di teras kelas, warna-warni kelopak memperindah lorong, dan halaman sekolah tampak teduh serta bersahabat. Sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang yang nyaman untuk tumbuh.
Banjir mengubah semuanya dalam hitungan jam. Lumpur menutup lantai yang sebelumnya bersih. Sampah tersangkut di pagar dan sudut-sudut bangunan. Aroma tanah basah yang biasanya menenangkan berubah menjadi sisa genangan yang menyisakan pekerjaan panjang. Jika sebelumnya setiap sudut dihiasi bunga, selepas banjir hampir setiap jengkal dihiasi lumpur.

Meski demikian, sekolah ini tidak memilih untuk meratapi keadaan terlalu lama. Di sela-sela kegiatan belajar mengajar yang tetap berjalan, proses pembenahan dimulai secara bertahap. Sapu, sekop, dan ember menjadi pemandangan sehari-hari. Guru, tenaga kependidikan, dan siswa bekerja berdampingan membersihkan ruang kelas, halaman, serta fasilitas yang terdampak.

Siswi-siswi yang sebelumnya tekun merawat taman, kini dengan ketelatenan yang sama membersihkan sisa lumpur. Tangan-tangan yang terbiasa memegang buku dan gawai pembelajaran, kini sigap mengangkat pot, menata ulang tanaman, dan menyusun kembali lingkungan yang sempat porak-poranda. Dalam suasana kerja bersama itu, terselip canda ringan yang justru menguatkan semangat. Sebab di tengah kelelahan, kebersamaan adalah energi yang tidak pernah habis.
Perlahan namun pasti, wajah sekolah mulai berubah. Lumpur tersingkir, sampah terangkut, dan halaman kembali tertata. Pot-pot bunga kembali menghiasi sudut-sudut yang sempat kehilangan warna. Keasrian itu memang belum sepenuhnya seperti sediakala, tetapi fondasi semangatnya justru jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Keberhasilan pembenahan ini bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan buah dari kolaborasi seluruh warga sekolah. Dari pimpinan hingga siswa, semua mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Peristiwa ini menjadi pelajaran nyata bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman, solidaritas, dan gotong royong.

SMKN 1 Peusangan kini terus berbenah. Bukan hanya menata taman dan bangunan, tetapi juga meneguhkan tekad untuk bangkit lebih kuat dari ujian yang telah dilalui.
Karena bagi kami, tantangan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dilalui bersama.
#SMKN1PeusanganSiapKerja
#SMKN1PeusanganSiapJuara